KEBIJAKAN KEGIATAN PRIORITAS PENDIDIKAN
LUAR BIASA
Program
Uji Coba Pendidikan Inklusi
Pendidikan Inklusi adalah
kebersamaan untuk memperoleh pelayanan pendidikan dalam satu kelompok secara
utuh bagi seluruh anak berkebutuhan khusus usia sekolah, mulai dari jenjang TK,
SD, SLTP sampai dengan SMU.
- Sosialisasi dan Integrasi: Memberikan kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus
untuk bersosialisasi dan berintegrasi dengan anak sebayanya di sekolah
reguler.
- Solusi Wilayah Terpencil: Sebagai solusi terhadap kendala sulitnya anak
berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pelayanan pendidikan secara utuh di
desa-desa dan daerah terpencil.
- Diseminasi Program:
Program inklusi yang telah dilaksanakan antara lain di SLB Negeri Kabupaten
Gunung Kidul, SLB Pembina Tk. Provinsi di Lawang, SLB Negeri Bandung, dan
sekolah-sekolah terpadu di DKI Jakarta, NTB, dan sebagainya.
Penanganan Anak Autisme
Penanganan secara dini bagi anak
yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi, bersosialisasi, sensorik,
perilaku, dan emosi untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan
kebutuhannya.
- Pengembangan Tenaga Ahli: Menggali dan mengembangkan kemampuan tenaga ahli
(dokter umum, dokter spesialis, psikolog) melalui instansi terkait lewat
seminar dan lokakarya layanan pendidikan untuk penyandang autisme.
- Peningkatan SDM Guru:
Meningkatkan kualitas SDM dengan memasukkan kurikulum mengenai pendidikan
untuk penyandang autisme pada pendidikan guru dan guru luar biasa
(terutama guru TK dan SD sebagai saringan pertama).
- Model Layanan:
Menyusun satu model layanan pendidikan bagi anak autis.
- Pedoman Modul:
Menyusun pedoman modul layanan pendidikan bagi anak autis.
- Stimulus Yayasan:
Memotivasi yayasan penyelenggara pendidikan autis dan penyelenggara SLB
dengan memberikan bantuan berupa block grant.
KEBIJAKAN PELAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK AUTIS
I.
PENGERTIAN
Istilah Autisme berasal dari kata "Autos"
yang berarti diri sendiri, dan "Isme" yang berarti suatu
aliran. Secara harfiah, autisme berarti suatu paham yang tertarik hanya pada
dunianya sendiri.
Autistik adalah suatu gangguan
perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan
aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai tampak sebelum anak berusia 3 tahun.
Bahkan pada infantile autism, gejalanya sudah ada sejak lahir.
Diperkirakan 180%–185% penyandang
autis memiliki retardasi mental, sedangkan 20% dari mereka mempunyai kemampuan
yang cukup tinggi untuk bidang-bidang tertentu (savant).
Bidang
Masalah/Gangguan Anak Autistik:
- Komunikasi
- Interaksi sosial
- Gangguan sensoris
- Pola bermain
- Perilaku
- Emosi
Apa
Penyebab Autistik?
- Faktor Genetika:
Beberapa teori terakhir mengatakan bahwa faktor genetika memegang peranan
penting. Bayi kembar satu telur akan mengalami gangguan autistik yang
mirip dengan saudara kembarnya. Ditemukan juga beberapa anak dalam satu
keluarga besar mengalami gangguan yang sama.
- Faktor Prenatal (Kandungan): Pengaruh virus seperti rubella, toxo, herpes; jamur;
nutrisi yang buruk; perdarahan; hingga keracunan makanan pada masa
kehamilan dapat menghambat pertumbuhan sel otak janin. Hal ini mengganggu
fungsi pemahaman, komunikasi, dan interaksi bayi.
- Faktor Pencernaan:
Penelitian terbaru mengungkap hubungan antara gangguan pencernaan dan
gejala autistik. Lebih dari 60% penyandang autistik memiliki sistem
pencernaan yang kurang sempurna. Protein dari susu sapi (casein)
dan tepung terigu (gluten) tidak tercerna dengan baik menjadi asam
amino, melainkan menjadi peptida. Peptida ini diserap kembali oleh tubuh,
masuk ke aliran darah, menuju otak, dan diubah oleh reseptor opioid
menjadi morfin (casomorphin dan gliadorphin) yang merusak sel-sel
otak serta mengganggu fungsi kognitif, reseptif, atensi, dan perilaku.
II.
KARAKTERISTIK
Anak autistik mempunyai
masalah/gangguan dalam bidang:
1.
Komunikasi
- Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.
- Anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah
bisa berbicara tetapi kemudian sirna.
- Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai dengan
artinya.
- Mengoceh tanpa arti secara berulang-ulang dengan bahasa
yang tidak dimengerti orang lain.
- Bicara tidak digunakan sebagai alat berkomunikasi.
- Senang meniru atau membeo (echolalia) dan dapat
menghafal kata/nyanyian tanpa mengerti artinya.
- Sebagian anak tidak berbicara (non-verbal) atau
kurang berbicara hingga usia dewasa.
- Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan
apa yang ia inginkan.
2.
Interaksi Sosial
- Lebih suka menyendiri.
- Tidak ada atau sedikit kontak mata, serta menghindari
tatapan.
- Tidak tertarik dan cenderung menjauh jika diajak
bermain bersama teman sebaya.
3.
Gangguan Sensoris
- Sangat sensitif terhadap sentuhan (misalnya, tidak suka
dipeluk).
- Langsung menutup telinga bila mendengar suara keras.
- Senang mencium-cium atau menjilat mainan dan
benda-benda sekitar.
- Kurang sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.
4.
Pola Bermain
- Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya dan tidak
kreatif/imajinatif.
- Tidak bermain sesuai fungsi mainan (misalnya, sepeda
dibalik lalu rodanya diputar-putar).
- Senang dengan benda-benda yang berputar (kipas angin,
roda, dll).
- Dapat sangat lekat dengan benda tertentu yang terus
dipegang dan dibawa ke mana-mana.
5.
Perilaku
- Dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau
sangat pasif (hipoaktif).
- Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti
bergoyang-goyang, mengepakkan tangan, berputar-putar, mendekatkan mata ke
TV, atau berjalan bolak-balik.
- Tidak menyukai perubahan rutinitas.
- Sering duduk bengong dengan tatapan kosong.
6.
Emosi
- Sering marah, tertawa, atau menangis tanpa alasan yang
jelas.
- Alami temper tantrum (mengamuk tak terkendali)
jika dilarang atau tidak dipenuhi keinginannya.
- Kadang suka menyerang, merusak, atau berperilaku
menyakiti diri sendiri.
- Kurang memiliki empati dan kesulitan mengerti perasaan
orang lain.
III.
IDENTIFIKASI DAN DIAGNOSA
Waktu adalah bagian terpenting. Jika
anak memperlihatkan beberapa gejala di atas, segera hubungi psikolog klinis,
dokter spesialis tumbuh kembang anak, psikiater anak, atau neurolog anak.
Mereka akan melakukan pengkajian (assessment) dan menegakkan diagnosa.
Jika terdiagnosa sejak dini, anak autistik dapat segera ditangani melalui
terapi terstruktur dan terpadu, sehingga peluang untuk mengarah ke perilaku
normal menjadi lebih terbuka.
IV.
PENANGANAN LAYANAN PENDIDIKAN
A.
Program Intervensi Dini (Layanan Awal)
1.
Discrete Trial Training (DTT) dari Lovaas
Didasari oleh model perilaku
kondisioning operan (Operant Conditioning) yang menjadi faktor utama
program intensif DTT. Teori ini menggunakan pendekatan Applied Behavioral
Analysis (ABA) yang bertumpu pada 3 hal:
- Perilaku secara konseptual meliputi antecedents
(pemicu), behavior (perilaku), dan consequences
(konsekuensi).
- Stimulus antecedent dan konsekuensi sebelumnya
akan berefek pada reaksi perilaku yang muncul.
- Efektivitas pengajaran berkaitan dengan kontrol
terhadap pemicu dan konsekuensi, menggunakan positive reinforcement
(hadiah/pujian) untuk mempertahankan perilaku baik, dan menghilangkan
perilaku buruk (melalui time out, hukuman, atau kata
"tidak").
Siklus Teknis DTT: Stimuli dari guru $\rightarrow$ Respon anak $\rightarrow$
Konsekuensi $\rightarrow$ Jeda sejenak $\rightarrow$ Perintah selanjutnya.
2.
Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Program for Preschoolers
and Parents)
Menggabungkan Developmentally
Appropriate Practice (DAP) dan teknik ABA dalam sebuah program inklusi yang
berfokus pada perkembangan sosial anak (central social deficit). Prinsip
dasarnya meliputi:
- Semua anak mendapat keuntungan dari lingkungan yang
terpadu.
- Intervensi harus konsisten di rumah, sekolah, dan
masyarakat.
- Keberhasilan besar dicapai melalui kerja sama guru dan
orang tua.
- Anak autistik bisa saling belajar dari teman sebaya
mereka.
- Intervensi harus terancang, sistematis, dan individual.
3.
Floor Time
Berdasarkan teori perkembangan
interaktif bahwa keterampilan kognitif pada 4–5 tahun pertama kehidupan
didasarkan pada emosi dan hubungan (relationship). Floor Time
merupakan teknik interaksi sistematik untuk anak yang memiliki kesulitan besar
dalam berhubungan dan berkomunikasi.
4.
TEACCH (Treatment and Education of Autistic and Related Communication
Handicapped Children)
Merupakan program nasional di North
Carolina, USA yang menyediakan pelayanan berkesinambungan (diagnosa, terapi,
konsultasi, penunjang hidup) untuk individu, keluarga, dan lembaga. Konsep
pembelajarannya memadukan teori tingkah laku, perkembangan, dan sudut pandang
ekologi.
B.
Program Terapi Penunjang
- Terapi Wicara:
Melatih otot-otot mulut untuk membantu anak berbicara lebih baik.
- Terapi Okupasi:
Melatih kemampuan motorik halus anak.
- Terapi Bermain:
Mengajarkan anak bersosialisasi lewat metode belajar sambil bermain.
- Terapi Medikamentosa:
Pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.
- Terapi Makanan (Diet Therapy): Khusus untuk anak dengan masalah alergi makanan
tertentu (bebas casein & gluten).
- Sensory Integration Therapy: Untuk melatih anak yang mengalami gangguan sensorik.
- Auditory Integration Therapy: Untuk menyempurnakan fungsi pendengaran anak.
- Biomedical Treatment:
Perbaikan kondisi tubuh agar terlepas dari faktor perusak (logam berat,
efek casomorphine, gliadorphin, alergen, dll).
C.
Layanan Pendidikan Lanjutan
Jika anak memperlihatkan
keberhasilan terapi yang signifikan (mampu mengendalikan perilaku,
berkomunikasi normal, dan memiliki wawasan akademik dasar), anak sebaiknya
mulai diperkenalkan ke lingkungan anak-anak normal sebagai figur contoh (role
model).
1.
Kelas Terpadu (Kelas Transisi)
Kelas persiapan sebelum masuk
sekolah reguler menggunakan kurikulum biasa namun dengan metode pengajaran
khusus anak autistik (kelas kecil, rasio guru besar, alat bantu visual,
instruksi padat dan konsisten).
- Tujuan:
Mempersiapkan transisi ke sekolah reguler dan mengejar ketertinggalan
pelajaran.
- Prasyarat:
Didampingi guru SD dan terapis, kurikulum individual (Individualized
Education Program / IEP) disusun oleh tim multidisiplin, dan lokasi
kelas berada di lingkungan sekolah reguler.
2.
Program Inklusi (Mainstreaming)
Dapat berhasil dengan syarat:
- Keterbukan dari pihak sekolah umum.
- Tes masuk tidak hanya didasarkan pada tes IQ anak
normal.
- Peningkatan kualitas SDM/guru terkait.
- Adanya pendampingan oleh Guru Pembimbing Khusus (GPK)
atau shadow teacher.
- Anak memiliki IEP sehingga berhak memilih pelajaran
yang mampu ia ikuti.
- Tersedianya ruang khusus (special unit) jika
anak membutuhkan terapi 1:1 di sekolah.
Karakteristik Belajar Anak Autistik: Mereka adalah visual-learners (mudah paham lewat
gambar), memiliki kemampuan tidak merata (misal: kuat di matematika/daya ingat
rumus, namun lemah di bahasa/pemahaman bacaan), serta sulit berempati dan bekerja
dalam kelompok pada bulan-bulan pertama sekolah.
Tugas Guru Pembimbing Khusus (GPK) /
Shadow Teacher:
- Menjembatani instruksi antara guru kelas dan anak.
- Mengendalikan perilaku anak di dalam kelas dan membantu
anak fokus.
- Membantu anak berinteraksi dengan teman-temannya.
- Menjadi media informasi antara guru kelas dan orang
tua.
3.
Sekolah Khusus
Ditujukan bagi anak yang setelah
dievaluasi dari Kelas Terpadu masih kesulitan bertransisi ke sekolah reguler
karena mudah terdistraksi, namun memiliki potensi luar biasa di bidang tertentu
(musik, seni lukis, komputer, olahraga, keterampilan usaha kecil).
4.
Program Sekolah di Rumah (Homeschooling)
Ditujukan bagi anak dengan
keterbatasan berat (non-verbal, retardasi mental, gangguan motorik berat).
Program ini mengandalkan kerja sama erat antara guru, terapis, dan orang tua
untuk menggali potensi utama (strength) anak serta memberikan dukungan
moral bagi keluarga.
V.
PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN AUTISTIK
A.
Pelaksanaan Identifikasi Anak Autistik
- Rujukan Terapi:
Bersumber dari guru TK/Playgroup/TPA, orang tua, maupun tenaga ahli.
- Assessment (Pengkajian): Dilakukan oleh tim multidisiplin (dokter, psikolog,
terapis wicara, guru, orang tua) menggunakan acuan kurikulum resmi,
pedoman observasi klinis, dan masukan keluarga. Aspek yang dikaji meliputi
kognitif, motorik, bahasa, interaksi sosial, bina diri (self-help),
sensorik, dan nutrisi.
- IEP (Individual Educational Plan): Rencana pendidikan individu yang disesuaikan dengan
kebutuhan unik anak.
- Persetujuan Orang Tua: Komitmen penuh orang tua untuk terlibat dalam teamwork
pendidikan anak.
- Evaluasi:
Meliputi evaluasi proses (harian oleh guru), evaluasi bulanan (laporan
guru-orang tua), dan evaluasi caturwulan (deskripsi kualitatif
perkembangan anak).
B.
Pengembangan Kurikulum
Kurikulum bersifat fleksibel dan
dimodifikasi berdasarkan tingkat perkembangan, usia, dan kebutuhan anak. Untuk
intervensi dini, pengembangan mengacu pada:
- Program Kelompok Bermain (usia 2–3 tahun)
- Kurikulum TK (usia 4–5 tahun)
- Kurikulum SD / SLB Tunarungu / SLB Tunagrahita
Kurikulum dititikberatkan pada 5
kemampuan dasar: Kognitif, Bahasa/Komunikasi, Sensomotorik, Bina Diri, dan
Sosialisasi. Jika kemampuan dasar terpenuhi, program dapat ditingkatkan ke
ranah pra-akademik dan akademik (membaca, menulis, berhitung).
C.
Ketenagaan
- Tenaga Kependidikan (Guru/Terapis): Idealnya lulusan PGTK, PGSD, Sarjana PLB, atau
Psikologi yang memiliki kasih sayang, kreativitas tinggi, serta kemauan
belajar yang besar.
- Tenaga Non-Kependidikan: Terdiri dari Terapis Perilaku, Terapis Wicara, Terapis
Sensori Motorik, Psikolog, Dokter, Ahli Gizi, serta Orang Tua dan Relawan.
- Tenaga Administrasi:
Membantu kelancaran teknis dan dokumentasi lembaga.
- Tenaga Penyelenggara (Yayasan): Bertindak sebagai fasilitator sarana dan penanggung
jawab perkembangan sekolah.
- Tenaga Pengelola (Kepala Sekolah): Jembatan komunikasi antara orang tua, yayasan, dan
peningkatan mutu SDM guru.
D.
Sarana dan Prasarana
- Usia Prasekolah:
Alat peraga warna/bentuk/huruf, kartu gambar komunikasi (PECS),
alat motorik halus/kasar, ruang terapi wicara, dan ruang integrasi sensori
(ayunan, balok titian).
- Usia Sekolah Dasar:
Sarana belajar SD umum, alat peraga konkrit, guru pendamping, dan
fasilitas sosial.
- Usia Pendidikan Menengah: Mengikuti sarana sekolah menengah umum (jika mampu
inklusi) atau sarana pengembangan kemampuan fungsional mandiri di sekolah
khusus.
E.
Pendanaan
Pendidikan autistik membutuhkan biaya
yang relatif tinggi karena menerapkan pola pengajaran individual (rasio 1 anak
: 1 guru). Oleh karena itu, diperlukan partisipasi dan sinergi dana yang kuat
dari masyarakat, orang tua, dan bantuan pemerintah.
F.
Manajemen & Jaringan Kerja
Layanan ini wajib berbentuk jaringan
kerja (networking) terpadu yang melibatkan: Orang Tua (pelaksana
utama di rumah), Tenaga Pendidik (evaluator di sekolah), Penyelenggara
Pendidikan (penyedia sarana), Tenaga Profesional/Medis (deteksi dini
& terapi), dan Pemerintah (fasilitator & pengawas).
G.
Lingkungan
Lingkungan luar sekolah harus
diedukasi agar dapat bersikap tepat terhadap anak autistik. Lingkungan ini
mencakup keluarga inti/besar, masyarakat sekitar sekolah, masyarakat pemilik
sarana publik, hingga masyarakat luas melalui edukasi media massa dan seminar.
H.
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Guru bertindak sebagai model utama
yang wajib memiliki kepekaan, ketelatenan, kreativitas, dan konsistensi tinggi.
Prinsip-Prinsip
Pendidikan dan Pengajaran Anak Autistik:
- a. Terstruktur:
Materi diberikan dari yang paling mudah/dasar. Setelah dikuasai, baru naik
ke tingkat berikutnya secara berkesinambungan. Struktur ini meliputi struktur
waktu, ruang, dan kegiatan.
- b. Terpola:
Kegiatan dibiasakan melalui rutinitas yang teratur dan terjadwal (dari
bangun tidur hingga tidur kembali) untuk membentuk kemandirian, namun
perlahan dilatih fleksibel agar anak adaptif terhadap perubahan.
- c. Terprogram:
Materi edukasi dirancang bertahap dengan target yang jelas agar mudah
dievaluasi secara berkala.
- d. Konsisten:
Sikap guru harus tetap dan konsisten dalam memberikan respons. Jika anak
merespon positif, segera beri reward (pujian/hadiah). Jika
berperilaku negatif, berikan konsekuensi secara tetap dan tepat di
berbagai ruang dan waktu (maintenance).